Sabtu, 28 Februari 2009

2009_02_28 Garut- Kabut di sisi kota berbeda



Selamat datang di Garut
**Baca: Garut-Sisi Kota Yang Terjaga



Tak membutuhkan liburan panjang untuk bisa sampai di satu kota penghasil makanan Dodol ini, dan menghabiskan liburan disana. Perjalanan yang dimulai dengan rintik hujan *lagi* pagi itu, cukup lancar. Arus kendaraan padat terutama karena suasana week end yang sarat liburan keluar kota.




Hujan kian lebat, meski kendaraan tak terlalu ramai. Lampu lampu kecil menerangi sudut sudut jalan tol yang gelap oleh kabut yang turun.

Tersebutlah GARUT dengan satu kota kecil bernama Pamengpeuk. Tak seberapa sering aku mengunjunginya, dan ini merupakan perjalananku yang kedua. Waktu yang ditempuh diperkirakan sekitar 6 jam perjalanan. Panjangnya waktu dan liku liku jalan yang tajam dan curam, cukup membuat kami berhati hati dalam berkendaraan. Terutama karena harus melewati tepi perbukitan yang "bersahabat dengan" longsor dan jurang.



Perbukitan nan panjang dan terbilang sepi ini, tak kuketahui apa namanya. Yang jelas dulu, tak seramai seperti saat ini. Gelap, seakan tak terjamah, bahkan jarang bertemu sapa penduduk sekitar yang lewat.

Berbeda dengan keadaan beberapa tahun setelahnya. Pemukiman penduduk terlihat di beberapa titik tertentu. Warung warung pojok juga sudah merambah di beberapa tempat. Lalu lalang kendaraan, orang, dan iring iringan kendaraan pribadi pun kami temui beberapa kali, lebih sering.

Makan siang sederhana di warung Mulya Sari




Beberapa rumah dan warung penduduk di pinggir jalan perbukitan




Kabut turun memenuhi lembah lembah yang makin tertutupi

Ketika itu awan mulai turun, terlihat lebih jelas kabut mulai menutupi puncak puncak gunung dan perbukitan di jauhnya mata memandang. Sepintas sebuah gunung nan anggun berdiri, namun seakan tak tersentuh dan kian terselimuti oleh kabut yang menebal.



Lalu lalang kendaraan mulai terlihat lebih sering

Beberapa lalu lalang kendaraan, kami temui sembari di perjalanan. Tak seramai seperti di Puncak Cipanas tentunya, sekalipun beberapa rumah penduduk bertebaran di beberapa sudut jalan.




Hamparan perbukitan yang dimanfaatkan untuk menanam hasil bumi




Kabut yang turun terlihat dengan jelas. Mm .. seperti berada di atas puncak gunung.




Sebentuk awan awan ini, membesit satu kekaguman di benakku. Tak henti hentinya aku mencoba mengabadikannya. Mencoba menghayalkan posisi diri berada di pundak satu gunung tertinggi. Memandang sekeliling yang tertutup kabut. Tak bisa melihat satu sudut kota dengan jelas .. hanya awan putih yang berkuasa.



Adalah Gunung Papandayan, yang menjulang dan sangat cantik terlihat.





Langit mulai memperlihatkan kemegahannya. Kabut turun memenuhi layar pandang mata. "Seperti itulah pemandangan dari puncak gunung" Ujar suamiku mengenang masa masa pendakiannya dahulu.



Perbukitan di daerah Pamengpeuk terbilang baru sedikit "dibuka" oleh manusia. Dominan masih seperti aslinya. Beberapa bekas longsor tanah terlihat rapi seolah sudah kembali ditata/dirapikan.







Baru besar yang berdiri di sisi jalan, terlihat begitu menyeramkan.
Tak terbayang bila batunya longsor ??







Betapa diri ini terlihat kecil diantara gunung gunung dan bukit yang berdiri di depan. Bahkan kami tak lagi bisa melihat titik bawah yang tertutup oleh kabut, seperti ketika pagi masih mengantuk.

Gunung Papandayan terlihat mengintip di ujung jalan. Mataku tak henti hentinya mengagumi keindahan karya Tuhan itu. Seperti seorang Dewa yang menjaga ranah Garut di hari harinya.

Baca:
** Garut-
Sisi Kota Yang Terjaga
** Garut-Pagi Yang Penuh Kesahajaan
** Garut- Pemandian Air Hangat

0 komentar:

Pigura Perjalanan II © 2008 Template by:
SkinCorner